Setting PPPoE Server MikroTik untuk Pelanggan RT/RW Net
· 7 menit baca

Daftar isi11 bagian

Banyak RT/RW Net dimulai dengan hotspot atau DHCP statis karena paling cepat dipasang. Begitu pelanggan lewat 15 rumah, cara itu mulai merepotkan: IP bertabrakan, perangkat tetangga bisa saling lihat, dan tidak ada catatan siapa memakai bandwidth berapa. PPPoE server menutup tiga masalah itu sekaligus karena setiap rumah login dengan akun sendiri dan mendapat IP dari pool yang dikelola router.
Artikel ini menyusun konfigurasi PPPoE server MikroTik dari nol untuk RouterOS v7: pool, profil dengan batas kecepatan, akun pelanggan, NAT, isolasi antar rumah, sampai cara membaca sesi yang sedang aktif. Semua perintah bisa ditempel langsung ke terminal Winbox.
Kenapa PPPoE, bukan DHCP atau hotspot
| Aspek | DHCP statis | Hotspot | PPPoE server |
|---|---|---|---|
| Autentikasi | Tidak ada | Halaman login | Akun per perangkat |
| IP pelanggan | Bisa bentrok | Dari pool | Selalu dari pool |
| Batas kecepatan | Queue manual | Queue manual | Menempel di profil |
| Pelanggan menunggak | Dilacak manual | User dinonaktifkan | Secret dinonaktifkan |
| Isolasi antar rumah | Perlu VLAN | Broadcast terpisah | Bisa lewat address-list |
PPPoE juga membuat CPE di rumah pelanggan bekerja sebagai client, bukan router yang membagi IP. Kesalahan setting di satu rumah tidak merusak jaringan tetangga, dan sesi yang macet bisa diputus dari pusat tanpa mendatangi lokasi.
Topologi dan bahan yang disiapkan
| Komponen | Fungsi | Catatan |
|---|---|---|
| Router MikroTik | PPPoE server, NAT, queue | Minimal 2 port, RAM cukup untuk jumlah sesi |
| Bridge LAN | Menghubungkan semua port pelanggan | Tanpa IP address |
| Port uplink | Ke modem atau perangkat ISP | IP dari ISP, biasanya dinamis |
| Switch | Membagi kabel ke rumah | Unmanaged sudah cukup |
| CPE pelanggan | Mode PPPoE client | TP-Link, ZTE, atau ONT yang mendukung |
Satu hal yang sering terlewat: interface tempat PPPoE server berjalan jangan diberi IP address. RouterOS membuat interface pppoe-in dinamis untuk setiap sesi, dan IP pelanggan diambil dari pool yang diatur profil. Manual MikroTik juga menyarankan tidak memakai DHCP atau IP statis di interface yang sama dengan PPPoE.
Langkah 1: siapkan pool dan profil PPP
Mulai dari pool alamat. Pilih subnet yang tidak bertabrakan dengan IP modem ISP, misalnya 10.20.0.0/24.
/ip pool add name=pool-rtrw ranges=10.20.0.2-10.20.0.254Lalu profil. Di sinilah batas kecepatan, DNS, dan alamat gateway ditentukan untuk semua pelanggan yang memakai profil tersebut.
/ppp profile add name=profil-10m local-address=10.20.0.1 \
remote-address=pool-rtrw dns-server=1.1.1.1,8.8.8.8 \
rate-limit=10M/10M only-one=yes change-tcp-mss=yesArti rate-limit perlu dipahami sebelum menyalin angka. Formatnya rx/tx dilihat dari sisi router, jadi 10M/10M berarti unggah 10 Mbps dan unduh 10 Mbps. Untuk paket 30 Mbps unduh dan 10 Mbps unggah, tulis 10M/30M, bukan 30M/10M. Terbalik menulisnya adalah kesalahan yang paling sering muncul di RT/RW Net, dan gejalanya mirip jaringan lambat biasa.
only-one=yes mencegah satu akun dipakai login di dua perangkat sekaligus. change-tcp-mss=yes membiarkan router menyesuaikan MSS agar halaman web tidak tersendat akibat MTU PPPoE yang 1492 byte.
| Paket | rate-limit | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Hemat | 5M/5M | 1-2 perangkat, browsing dan chat |
| Rumah | 10M/10M | 3-4 perangkat, streaming |
| Keluarga | 10M/30M | TV, kerja dari rumah, unduhan |
| Usaha kecil | 20M/50M | Warung atau kantor kecil |
Batas berbeda per pelanggan cukup dibuat sebagai profil tambahan. Jangan mengubah profil yang sudah dipakai banyak orang hanya untuk satu pelanggan baru.
Langkah 2: aktifkan PPPoE server
Daftarkan server di interface LAN. Nama service harus sama dengan yang diisi di CPE pelanggan.
/interface pppoe-server server add service-name=rtrw interface=bridge-LAN \
default-profile=profil-10m authentication=pap,chap,mschap2 disabled=noKalau CPE hanya mendukung satu metode, sesuaikan daftar authentication. Setelah perintah ini dijalankan, belum ada pelanggan yang bisa masuk karena akunnya belum dibuat. Cek server sudah aktif dengan /interface pppoe-server server print.
Langkah 3: buat akun pelanggan
Satu rumah, satu secret. Isi comment dengan alamat supaya penagihan tidak tertukar antar pelanggan yang namanya mirip.
/ppp secret add name=rumah-01 password=GantiSendiri123 service=pppoe \
profile=profil-10m comment="Blok A no 12"Kalau pelanggan membayar IP tetap, tambahkan remote-address=10.20.0.50. Tanpa itu, alamat diambil otomatis dari pool. Cek hasilnya dengan /ppp secret print detail dan pastikan kolom profile berisi profil-10m, bukan default.
Untuk menonaktifkan pelanggan yang menunggak, cukup ubah secret-nya, jangan hapus. Riwayat dan komentar tetap tersimpan sehingga mudah diaktifkan lagi.
/ppp secret disable [find name=rumah-01]Langkah 4: NAT dan pengamanan router
Pelanggan butuh akses internet, bukan akses ke router. NAT cukup satu aturan di port uplink.
/ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masqueradeUntuk firewall, mulai dari aturan dasar: izinkan koneksi yang sudah terbentuk, buang paket invalid, lalu tutup layanan manajemen dari arah WAN.
/ip firewall filter
add chain=input connection-state=established,related action=accept
add chain=input connection-state=invalid action=drop
add chain=input in-interface=ether1 action=dropJangan menutup semua input dari pppoe-in tanpa tes. Sebagian setup masih memakai DNS router atau halaman status, dan drop yang terlalu cepat membuat pelanggan mengira internetnya mati.
Langkah 5: isolasi antar pelanggan
Secara default, trafik antar pelanggan PPPoE bisa melewati router karena keduanya berada di subnet yang sama. Tambahkan address-list di profil agar setiap IP pelanggan otomatis masuk daftar saat login.
/ppp profile set profil-10m address-list=pelanggan
/ip firewall filter add chain=forward src-address-list=pelanggan \
dst-address-list=pelanggan action=drop place-before=0Aturan ini memblokir akses rumah ke rumah, tetapi tetap mengizinkan akses ke internet. Kalau ada layanan bersama seperti printer atau CCTV yang memang harus dibuka, buat pengecualian per alamat, jangan mematikan aturan isolasinya.
Setelan di CPE pelanggan
Setelah router siap, pekerjaan pindah ke rumah pelanggan. Urutannya pendek, tetapi satu kolom salah membuat CPE terus mendapat alamat 169.254.
- Buka halaman admin CPE, pilih mode koneksi PPPoE, bukan DHCP.
- Isi username dan password persis seperti pada secret, termasuk huruf besar dan tanda minus.
- Isi service name
rtrwbila kolomnya tersedia. Kalau kosong, sebagian CPE tetap bisa connect, sebagian menolak. - Set MTU 1492. Nilai 1500 membuat beberapa situs berhenti di tengah pemuatan.
- Simpan, lalu cek status koneksi. IP yang muncul harus berada di rentang 10.20.0.x dan gateway 10.20.0.1.
Kalau CPE juga menjalankan DHCP server untuk perangkat di rumah, biarkan aktif. Yang penting IP WAN-nya berasal dari PPPoE, bukan dari DHCP router pusat.
Memantau sesi dan pemakaian
Sesi yang sedang berjalan bisa dilihat dari menu PPP active. Kolom uptime membantu menemukan pelanggan yang koneksinya putus-putus.
/ppp active print
/ppp active print detail where name=rumah-01Karena batas kecepatan dipasang di profil, RouterOS membuat queue dinamis per sesi. Cek dengan /queue simple print dan cari nama berawalan nama secret. Kalau queue tidak muncul, berarti sesi memakai profil lain.
Log berguna saat pelanggan melapor tidak bisa login. Filter topik ppp supaya tidak tenggelam oleh log firewall.
/log print where topics~"ppp"Masalah yang sering muncul
| Gejala | Penyebab umum | Perbaikan |
|---|---|---|
| CPE dapat IP 169.254 | Service name beda | Samakan service-name |
| Login gagal, password benar | Profil atau service secret salah | Set service=pppoe |
| Unduh lambat, unggah normal | rate-limit terbalik | Tukar urutan rx/tx |
| Halaman tertentu tidak terbuka | MTU atau MSS | Aktifkan change-tcp-mss |
| Sesi dobel satu akun | Login bersamaan | only-one=yes di profil |
Kalau pelanggan lewat 50 rumah dan penagihan mulai manual, pertimbangkan RADIUS. Di bawah itu, secret dan profil di router masih cukup.
Kesimpulan
PPPoE server memberi tiga hal yang tidak didapat dari DHCP: akun per rumah, batas kecepatan di profil, dan catatan sesi yang bisa diaudit. Konfigurasinya lima langkah dan bisa diulang untuk pelanggan baru tanpa menyentuh pengaturan yang sudah jalan. Untuk queue dan mangle, lanjutkan ke panduan Setting RT/RW Net: Simple Queue, Address List, dan Mangle. Butuh batas per aplikasi? Cara limit bandwidth dengan queue melengkapi profil PPP, dan panduan setting PPPoE di MikroTik memakai menu yang sama dari sisi pelanggan IndiHome.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah PPPoE lebih baik daripada hotspot untuk RT/RW Net?
Untuk pelanggan tetap, PPPoE lebih rapi karena setiap rumah punya akun sendiri, IP selalu dari pool, dan batas kecepatan menempel di profil. Hotspot lebih cocok untuk akses tamu atau pengguna yang sering berganti perangkat.
Berapa jumlah pelanggan maksimal satu router MikroTik?
Tidak ada angka pasti karena bergantung pada model dan beban trafik. Manual MikroTik menyarankan tidak menumpuk sesi PPPoE dalam jumlah besar pada satu perangkat, jadi untuk ratusan pelanggan pakai perangkat kelas CCR atau pisahkan server per wilayah.
Kenapa kecepatan unduh pelanggan jadi lebih lambat dari unggah?
Hampir selalu karena urutan rate-limit terbalik. Formatnya rx/tx dari sisi router, sehingga paket 30 Mbps unduh dan 10 Mbps unggah harus ditulis 10M/30M, bukan 30M/10M.
Apakah pelanggan perlu IP statis?
Tidak untuk pemakaian rumah biasa. IP dari pool sudah cukup dan lebih mudah dirawat. IP statis baru berguna bila pelanggan membuka layanan yang perlu alamat tetap, misalnya CCTV yang diakses dari luar.
Bagaimana menambah pelanggan baru tanpa mengganggu yang lain?
Cukup tambah satu ppp secret dengan profil yang sesuai. Sesi yang sedang berjalan tidak terputus karena perubahan secret tidak mengubah profil yang sudah dipakai pelanggan lama.

